Archive for September, 2008

MENGENAL JAMA’AH ANSHARUT TAHUID

September 23, 2008

Berjama’ah Perintah Allah dan Rasul-Nya

Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya telah memerintahkan ummat manusia agar hidup berjama’ah, berkumpul, saling meringankan dan melarang dari berpecah belah, bercerai berai, juga saling mehjatuhkan sati sama lainnya.(1

Banyak nash-nash Al Qur’anul Karim dan Hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam yang mengisyaratkan akan hal tersebut, diantaranya,

Firman Allah SWT :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dam jaganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran 3: 103)

Dalam menafsirkan ayat ini Al Imam Ibnu Katsir mengatakan : “… ayat ini mengandung perintah untuk berpegang teguh dengan Al Qur’an, berjama’ah serta menggalang persatuan dan bersatu, serta larangan untuk bercerai berai”.

Beliau menambahkan lagi dengan menyitir hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda yang artinya :

Sesungguhnya Allah ridho kepada kalian akan tiga hal dan marah akan tiga hal juga. Ia ridho kepada kalian akan hal bahwa kalian beribadah kepada-Nya saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, agar kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jangan bercerai berai, dan agar kalian saling menasehati orang yang oleh Allah ditaqdirkan memegang urusanmu. Dan Ia marah kepada kalian akan hal, banyak bicara tanpa tahu sumber dari yang dibicarakan, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta. (HR. Muslim) (2

Rasulullah SAW juga bersabda :

Aku perintahkan kepada kalian agar berjama’ah dan jauhilah berfirqoh, maka sesungguhnya syaithon itu bersama seorang yang sendirian dan ia dari dua orang lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (mewahnya) Jannah, maka hendaknya ia berpegang kepada Jama’ah. (HR. Tirnidzi, Hakim, Ahmad, dan disepakati Adz Dzahabiy dan Ibnu Abi ‘Asim)

Dan masih banyak nash-nash lain yang menunjukkan kepada kita betapa Allah dan Rasul-Nya mengajarkan agar kaum muslimin hidup berjama’ah dan tidak hidup sendiri-sendiri.

Pemahaman Ulama tentang Makna Jama’ah

Pemahaman tentang kehidupan berjama’ah oleh kalangan ulama diartikan menjadi dua bentuk :

1. Berjama’ah berarti berpegang teguh kepada nilai Al Haq (nilai kebenaran) dan tidak melepaskannya sama sekali.

2. Berjama’ah dalam arti hidup bersama dalam sebuah kelompok dengan mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin yang ditaati selagi memerintahkan kepada kebenaran. (3

Maka menurut pemahaman pertama, siapapun yang tidak berjama’ah pasti telah keluar dari ajaran Allah dan Rasul-Nya, atau dalam kata lain jika seseorang tidak mau berpegang kepada nilai-nilai Al Haq yang telah disepakati oleh kaum muslimin, maka secara otomatis dia telah terkeluar dari ajaran kebenaran dan berada di jalur yang bathil.

Begitu juga berjama’ah dalam artian yang kedua, merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya, siapapun yang enggan malaksanakannya maka secara otomatis akan hidup nafsi-nafsi (sendiri-sendiri) yang berakibat fatal pada kekuatan dan kesatuan ummat.

Maka dari itu usaha untuk menyatukan ummat adalah hal yang penting, tetapi penyatuan itu hendaknya dibangun di atas pondasi kebenaran dan bukan mengikuti cara atau ajaran apapun selain dari Al Haq (Qur’an dan Sunnah) yang telah diturunkan bagi kita.

Jama’ah Ansharut Tauhid

Alhamdulillah, seiring dengan kesadaran akan kewajiban hidup berjama’ah sesuai pemahaman di atas, hari ini di Jakarta, tanggal 17 Ramadhan 1429 H/ 17 September 2008 M yang bertepatan dengan hari kemenangan kaum muslimin di medan Badar 1500 tahun yang lalu, kita deklarasikan berdirinya sebuah jama’ah yang InsyaAllah akan menjadi bagian dari wadah kaum muslimin untuk melaksanakan kewajiban berjama’ah. Sebuah jama’ah yang diberi nama Ansharut Tauhid yang telah berdiri sejak tanggal 24 Rajab 1429 H/ 27 Juli 2008 M di Solo oleh beberapa ulama dan aktifis gerakan dakwah dengan usaha sepenuh hati untuk menegakkan ajaran Ilahi dan menghidupkan sunnah nabi-Nya.

Jama’ah Ansharut Tauhid di bawah kepemimpinan Ust. Abu Bakar Ba’asyir bertekad bergerak dalam usaha untuk Iqomatudien (menegakkan Dienullah) menuju kesatuan jama’ah kaum muslimin sedunia dalam bentuknya yang syar’I Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin Nubuwwah (Khilafah yang lurus sesuai Manhaj Nabi SAW).

Jama’ah Ansharut Tauhid yang berpondasikan Aqidah Ahlus sunnah wal Jama’ah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih ini berdiri di atas asas Al Qur’ah dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih sebagai jaminan pemahaman yang bersih dan murni seperti yang telah dijaminkan oleh Nabi SAW dalam sabdanya :

Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian yang setelahnya kemudian yang setelahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap muslim tentu tahu benar bahwa para sahabat adalah orang-orang yang paling faham dengan ajaran Nabi SAW, karena mereka hidup bersama Nabi SAW, dan para tabi’in (generasi setelah sahabat Nabi) adalah orang-orang yang paling banyak menimba ilmu dari para sahabat Nabi SAW dan generasi berikutnya adalah generasi yang masih sangat murni menerima ajaran islam dari generasi sebelumnya. Maka sudah sewajarnya untuk kita mengambil pemahaman tiga generasi itu sebagai acuan yang paling selamat untuk mengamalkan Dienullah.

Ketika Allah menjadikan Amar Ma’ruf Nahi munkar menjadi syarat utama agar ummat ini menjadi ummat yang terbaik dan menjadi saksi atas ummat-ummat yang lainnya, maka Ansharut Tauhid menjadikan Dakwah dan ber-Amar Ma’ruf Nahi Mungkar menjadi manhaj utama dalam perjuangannya kedepan, hingga pada saat yang telah memenuhi persyaratannya maka hijrah juga menjadi salah sebuah konsep perjuangan yang harus ditempuh serta mengibarkan bendera Jihad fi Sabilillah ke seantero dunia.

Semoga Ansharut Tauhid menjadi salah sebuah bintang yang berkilau di langit perjuangan ummat, yang terus memancarkan cahayanya untuk memerangi perjalanan ummat islam menuju kemenangan dunia akhirat. Sebagaimana manhaj Iqomatudien yang diperintahkan Rasulullah SAW kepada ummatnya.

1) Di sini kami tidak mencantumkan semua nash-nash terkait dengan perintah  berjama’ah dan sudah dimuat dalam buku “Jama’ah ketika Tiada Khilafah”

2) Tafsir Ibnu Katsir I/516-517

3) Baca Jama’atul Muslimin, Dr. Sholah Showiy

Advertisements

Gegap Gempita Jelang Deklarasi Jama’ah Anshorut Tauhid

September 10, 2008


Jika tak ada aral melintang , pada tanggal 17 Ramadhan 1429 bertepatan dengan tanggal 17 september 2008 , Insya Allah Jama’ah Anshorut Tauhid yang dibentuk pada 24 Rajab 1429 atau 27 Juli 2008 di Solo akan dideklarasikan oleh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Asrama Haji Bekasi.
Mantan Amirul Mujahidin Majelis Mujahidin itu bersama beberapa aktivis dakwah Islamiyah lainnya, akhirnya sepakat melanjutkan perjuangan penegakan Syari’at Islam sesuai dengan pola Sunnah dan meninggalkan cara – cara yang meragukan.

Ustadz yang dikenal berhati lembut tapi sangat tegas dalam memegang prinsip ini seperti diketahui sebelumnya , meninggalkan Majelis Mujahidin setelah tidak menemukan jalan tengah untuk melakukan perubahan kepada yang sesuai sunnah  didalam sistim kepemimpinan institusi Majelis Mujahidin .

Anshorut Tauhid ini sepenuhnya mengadopsi sistim Jama’ah Imamah yang diajarkan dalam Syari’at Islam sebagai bentuk kepemimpinan yang tepat sekalipun dalam keadaan ketiadaan Khilafah Ar Rosyidah . Dimana Amir Jama’ah dan  anggotanya akan memiliki kewajiban dan kewenangan sepanjang Syari’at Islam sesuai dengan kemampuan yang ada pada mereka .

panitia kerja persiapkan deklarasi

Sejak Ustadz Abu Bakar Ba’asyir membentuk jama’ah Anshorut Tauhid kurang dari 2 bulan silam, rencana mendeklarasikan berdirinya Jama’ah telah mengarahkan Jakarta sebagai tempat pelaksanaanya. Hal itu juga berarti memberikan kepercayaan ‘orang-orang’ Jakarta untuk menyukseskan hajat ini .

Sementara panitia pelaksana Deklarasi baru saja dibentuk sepekan lalu , tepatnya hari Ahad, 26 Agustus 2008, dengan komposisi yang sederhana padahal kegiatan ini adalah even nasional yang cukup membutuhkan biaya relative besar. Tampaknya ini seperti sebuah test bagi ‘orang-orang’ Jakarta seberapa jauh kemampuannya dalam menyelesaikan tugas .

Tim Pelaksana ini dipimpin oleh aktivis muda yang sangat energik dan visioner, Ustadz Aunur Rofiq yang tampaknya beliau tenang dalam mengemban amanah yang cukup berat ini. Dengan bantuan dan loyalitas anggota timnya, mudah–mudahan Alloh Jalla wa ‘ Ala berkenan memudahkan urusan ini bagi mereka dan kaum muslimin pada umumnya .

Dauroh JAT

Bertempat di Masjid Yayasan Al Mawwadah , Banjar Petaruman , pada hari ahad tanggal 7 September 2008 kemarin , dilakukan Dauroh untuk sosialisasi dan pembekalan kader – kader Jama’ah Anshorut Tauhid yang datang dari 9 daerah setingkat kotamadaya atau kabupaten se-Jawa Barat.

Dauroh yang berlangsung mulai dari pukul 13.00 sampai dengan pukul 17.30 diisi oleh tiga Pembicara yaitu Ustadz Halawi makmun Lc.MA , Ustadz Haris Amir Falah dan Ust. Abdurrahman menyajikan profil Jama’ah dan materi Aqidah serta Manhaj Anshorut Tauhid. Alhamdulilah, antusias peserta dauroh sangat bersar, hal itu nampak dari banyaknya pertanyaan juga masukan – masukan mereka .

Begitu pula dauroh Jama’ah Anshorut Tauhid di Banten pada tanggal 30 Agustus 2008 lalu . Dengan diikuti peserta yang datang dari berbagai penjuru provinsi Banten tidak kurang 30 orang , pemateri yakni Ustadz Haris Amir Falah dan Ustadz Lutfi Haidarulloh diberondong berbagai pertanyaan dan juga masukan .

Mesin penggerak Jama’ah tampaknya mulai menghangatkan semangat menyongsong deklarasi tanggal 17 Ramadhan besok .Sementara itu Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Ustadz Afif Abdul Majid juga telah berangkat ke Kalimantan pada tanggal 7 September kemarin . Di Jawa Timur juga telah berdiri Forum Muballigh Anshorut Tauhid ( FORMAT) , semoga semua ini menjadi bagian dari geliat dakwah islam di Nusantara, fastabiqul khoirot ! (Ahsan/MD)