Archive for the ‘Kisahku’ Category

Sms Merah Muda

June 2, 2008

Tulisan ini ana dpt dr Blog seorang kawan…

semoga bermanfaat….

“Tetap istiqomah, Ukhti… Selamat berjuang. Semoga Allah menyertai anti.” Sender : Ikhwan +62817xxx

Senyum timbul dari cakrawalanya dengan malu-malu. Serasa ada hangat menyelusup dada dan membuat jantung berdegup lebih cepat. Otaknya pun sekejap bertanya, “Ada apa?”, “Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya senang karena ada saudara yang menyemangatiku.” Si akhwat menyangkal hatinya cepat-cepat. Dan ia bergegas meninggalkan kamarnya, ada dauroh. Ia berlari sambil membawa sekeping rasa bahagia membaca sms tadi yang sebagian besar bukan karena isinya, melainkan karena nama pengirimnya.

“Ana lagi di bundaran HI, Ukhti. Doakan kami bisa memperjuangkan ini.” Sender : Ikhwan +628179823xxx

Untuk apa dia memberitahukan ini padaku. Bukankah banyak ikhwan atau akhwat lain? Nada protes bergema di benaknya. Tapi di suatu tempat, entah di mana ada derak-derak yang berhembus lalu. Derak samar bangga menjadi perempuan yang terpilih yang di-sms-nya.

Pagi itu, handphone kesayangannya berbunyi. “Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti.”

Dada membuncah hampir meledak bahagia. “Dia bahkan ingat hari lahirku!” Dibacanya dengan berbunga-bunga. Tapi pengirimnya… Sender : Akhwat +6281349696xxx

Senyum tergurat memudar. Tarikan napas panjang. Kecewa, bukan dari dia. Ringtone-nya berbunyi lagi.

“Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti.” Sender : Ikhwan +628179823xxx

Dia!Semburat jingga pagi jadi lebih indah berlipat kali. Senyumnya mengembang lagi. Dan bunga-bunga itu mekar-lah pula.

Cerita di atas tadi selurik gerak hati seorang akhwat di negeri antah berantah yang sangat dekat dengan kita. Gerak hati yang mungkin pernah bersemayam di dada kita juga. Bisa jadi kita mengangguk-angguk tertawa kecil atau berceletuk pelan, “Seperti aku nih,” saat membacanya. Hayo… ngaku! He he…

Mari kita cermati fragmen terakhir dari cerita tadi. Kalimat sms keduanya persis sama, yang intinya mengucapkan dan mendoakan atas hari lahir (mungkin mencontek dari sumber yang sama hehe…). Sms sama tapi berhasil menimbulkan rasa yang jelas berbeda. Karena memang ternyata lebih berarti bagi si akhwat adalah pengirimnya, bukan apa yang dikatakannya.

Namun sebenarnya, apakah Allah membedakan doa laki-laki dan perempuan? Mengapa menjadi lebih bahagia saat si Gagah yang mendoakan? Semoga selain mengangguk-angguk dan tertawa kecil, kita juga berani memandang dari sudut pandang orang ketiga. Dengan memandang tanpa melibatkan rasa (atau nafsu?), kita akan bisa berpikir dengan cita rasa lebih bermakna.

Konon, cerita tadi terus berlanjut.

Suatu hari yang cerah, sang akhwat mendapat kiriman dari si ikhwan itu. Sebuah kartu biru yang sangat cantik. Tapi sayang, isinya tidak secantik itu. Menghancurkan hati akhwat menjadi berkeping-keping tak berbentuk lagi. Kartu biru itu adalah kartu undangan pernikahan si ikhwan. Dengan akhwat lain, tentu saja. Berbagai Tanya ditelannya. Mengapa dia menikah dengan akhwat lain? Bukankah dia sering mengirim sms padaku? Bukankah dia sering me-miscall ku untuk qiyamull lail? Bukankah dia ingat hari lahirku? Bukankah dia suka padaku? Mengapa…mengapa…

Dan air mata berjatuhan di atas bantal yang diam. Teman, jangan bilang, ya… dia hanya tidak tahu, ikhwan itu juga mengirimkan sms, miscall, mengucapkan selamat hari lahir dan bersikap yang sama ke berpuluh akhwat lainnya!

Ironis. Sedih, tapi menggelikan, menggelikan tapi menyedihkan. Sekarang siapa yang bisa disalahkan? Akhwat memang seyogiyanya menyadari dari awal, sms-sms yang terasa indah itu bukan tanda ikatan yang punya kekuatan apa-apa. Siapa yang menjamin bahwa ikhwan itu ingin menikahinya? Bila ia berharap, maka harapanlah yang akan menyuarakan penderitaan itu lebih nyaring.

Tetapi para ikhwan juga tak bisa lari dari tanggung jawab ini. Allau’alam apapun niatnya, semurni apapun itu, ingatlah, sms melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Putih si pengirim, tak menjamin putihnya juga si penerima. Bisa jadi ia akan berwarna merah muda. Merah muda di suatu tempat di hati atau menjadi rona di pipi yang tak akan bisa disembunyikan di depan Allah.

Bagi perempuan, sms-sms dan bentuk perhatian sejenis dari laki-laki bisa menimbulkan rasa yang sama bentuknya dengan senyuman, kedipan menggoda, dan daya tarik fisik perempuan lainnya bagi laki-laki.

Menimbulkan sensasi yang sama. Ketika perempuan bertanya berbagai masalah pribadinya padamu, seringkali bukan solusi yang ingin dicari utamanya. Melainkan dirimu. Ya, sebenarnya perempuan ingin tahu pendapatmu tentang dia, apakah dirimu memperhatikannya, bagaimana caramu memandang dirinya. Dirimu, dirimu, dan dirimu… dan kami –kaum hawa- sayangnya, juga memiliki percaya diri yang berlebihan, atau bisa dibahasakan lain dengan ‘mudah Ge-Er’. Jadi, tolong hati-hati dengan perhatianmu itu.

Paling menyedihkan saat ada seorang aktivis yang tiba-tiba berkembang gerak dakwahnya atau semangat qiyamul lailnya karena terkait satu nama. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Ketika kita menyandingkan niat tidak karena Allah semata, maka apalah harganya! Apa harganya berpeluh-payah bukan karena Dia, tapi karena dia. Seseorang yang sama sekali bukan apa-apa, lemah seperti manusia lainnya.

Laki-laki dan wanita diciptakan berbeda bukan saling memusuhi, bukan juga saling bercampur tak bertepi, tapi semestinya saling menjaga diri. Secara fisik, emosional, atau kedua-duanya. SMS tampak aman dari pandangan orang lain, hubungan itu tak terlihat mata. Tapi wahai, syetan semakin menyukainya. Mereka berbaris di antara dua handphone itu. Maka dimanapun mereka berada, syaitan tetaplah musuh yang nyata!

Wahai akhwat, bila kau menginginkan sms-sms itu, tengoklah inbox-mu. Bukankah disana tersusun dengan manis sms-sms dari saudarimu. Saudari-saudarimu yang dengan begitu banyak aktivitas, amanah, kelelahan, dan kesedihan yang sangat memerlukan perhatianmu. Juga begitu banyak teman-temanmu yang belum mengenal Islam menunggu kau bawakan sms-sms cahaya untuk mereka.

Ada saatnya. Ya, ada saatnya nanti handphone kita dihiasi sms-sms romantis. Sms-sms yang walaupun hurufnya berwarna hitam semua, tapi tetap bernadakan merah muda. Untuk seseorang dan dari seseorang yang sudah dihalalkan kita berbagi hidup, dan segala kata cinta di alam semesta.

Cinta yang bermuara pada penciptaNya. Cinta dalam Cinta. Bersabarlah untuk indah itu.

“Ummi, abi lagi ngisi ta’lim di kampus pelangi. Di depan abi ada beribu bidadari-bidadari berjilbab rapi, tapi tak ada yang secantik bidadariku di istana Baiti Jannati. Miss u my sweety.

“Abi, yang teguh ya, pangeranku…rumah ini terasa gersang tanpa teduh wajahmu. Luv ya”

Ya, hanya untuk dia kita tulis the Pinkest Short Massage Services. Sms-sms paling merah muda.

(Mas Ibnu/Ahsan)

Advertisements

Al-Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam

February 20, 2008

(Beliau) adalah Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam bin ‘Abdillah. Berkat keilmuannya, beliau pun mendapatkan julukan sebagai imam, hafizh dan mujtahid. Ayahnya adalah budak milik salah seorang penduduk Harah. Meskipun budak, ternyata ayahnya sangat perhatian terhadap perkembangan keilmuan anaknya. Saat Abu ‘Ubaid bersama dengan putra gurunya, diriwayatkan bahwa sang ayah keluar dari rumahnya dan berkata kepada gurunya, “Ajarilah Al-Qasim! Sesungguhnya dia anak yang cerdas. ”Setelah selesai mempelajari dasar-dasar ilmu sesuai keinginan bapaknya yang tidak bisa berbahasa Arab, maka beliau mulai melakukan rihlah fi thalabil ‘ilmi, yaitu menempuh perjalanan untuk mencari ilmu di negeri seberang menuju Bashrah dan Kufah. Di sana, beliau memperdalam bahasa Arab, ilmu fikih dan hadits, kepada para ulama Daulah Islamiyah yang ada di kedua kota tersebut.’Ilmu yang dimilikinya tersebut, telah mengantarkan beliau menjabat sebagai qadhi di kota Tursus pada masa pemerintahan Tsabit bin Nasr bin Malik. Dan beliau tetap menjadi qadhi di kota tersebut selama Tsabit bin Nasr menjabat sebagai wali kota Tursus, yaitu dari tahun 192 H sampai 210 H, atau sekitar 18 tahun. Kemudian pada tahun 210 H beliau kembali ke kota Baghdad dan memulai berhubungan dengan Abdullah bin Thahir, yang menjabat sebagai gubernur di Khurasan.

Hubungan Abu ‘Ubaid dengan ‘Abdullah bin Thahir sangat dekat sehingga membuat ‘Abdullah bin Thahir sangat mencintai Abu ‘Ubaid. Ada beberapa kisah yang menjadi bukti kecintaan tersebut. Dikisahkan, ketika Abu ‘Ubaid bersama Abdullah bin Thahir, datanglah seseorang yang bernama Abu Dalf. Kedatangannya ini meminta agar ia bisa belajar kepada Abu ‘Ubaid selama 2 bulan. Abu ‘Ubaid pun menyanggupi permintaan tersebut, kemudian bermukimlah beliau di rumah Abu Dalf selama 2 bulan. Begitu waktu belajar telah usai, ketika hendak kembali, Abu Dalf memberikan uang kepada beliau sebesar 30.000 dirham. Akan tetapi beliau tidak mau menerimanya seraya berkata,

Sesungguhnya aku berada di sisi orang yang telah mencukupi kebutuhanku. Dan tidak menjadikan diriku membutuhkan kepada yang lainnya.1 Dan aku tidak akan mengambil sesuatu yang mengurangiku.

Ketika beliau telah kembali dari kediaman Abu Dalf, maka ‘Abdullah bin Thahir menyerahkan kepada beliau 30.000           Dirham sebagai gantinya. Sehingga beliau berkata,

Adapun sekarang, wahai Amir, maka aku terima (uang ini). Akan tetapi engkau telah mencukupkan aku dengan kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku. Aku berniat menggunakan uang ini untuk membali sebuah senjata dan seekor kuda. Yang keduanya, nanti akan aku pergunakan untuk berjaga-jaga di perbatasan, agar engkau mendapatkan pahala yang lebih banyak, wahai Amir.

Kemudian beliau pun mewujudkan keinginannya tersebut. Terdapat juga kisah lainnya yang menceritakan: Abul ‘Abbas Ahmad bin Yahya Tsa’lab berkata,

Suatu ketika Thahir bin ‘Abdullah bin Thahir datang dari Khurasan untuk melakukan haji, dan beliau singgah di rumah Ishaq bin Ibrahim. Dia pun mengundang para ulama untuk menemui Thahir bin ‘Abdullah bin Thahir. Maka, datanglah para ulama hadits dan fiqh, di antaranya Ibnul ‘Arabi dan Abu Nasr sahabat al Asma’i. Begitu pula Abu ‘Ubaid, diminta untuk datang menemuinya, akan tetapi beliau menolak menghadiri undangan tersebut. Beliau pun berkata,

Ilmu itulah yang harus didatangi

Mendengar jawaban itu, marahlah Ishaq. Waktu itu ‘Abdullah bin Thahir telah biasa memberikan gaji kepada Abu ‘Ubaid sebanyak 2.000 dirham setiap bulannya. Penolakan beliau ini kemudian menjadi sebab Ishaq bin Ibrahim menghentikan gaji tersebut dan mengirimkan laporan mengenai apa yang telah dilakukan Abu ‘Ubaid. Untuk menjawab risalah laporan ini, ‘Abdullah bin Thahir berkata,

Sungguh benar yang dikatakan Abu ‘Ubaid. Dan sesungguhnya aku akan menambah gajinya, disebabkan dengan yang dia lakukan. Maka berikanlah yang telah tahan dari gajinya dan tunaikanlah haknya.

Demikian ini dua dari beberapa kisah yang menunjukkan kedekatan Abu ‘Ubaid dengan ‘Abdullah bin Thalhah yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Khurasan. Bahkan ‘Abdullah bin Thahir pernah memujinya dengan berkata,

Manusia ada empat, Ibnu ‘Abbas pada zamannya, Asy-Sya’bi pada zamannya, Qasim bin Ma’an pada zamannya, dan Abu ‘Ubaid pada zamannya.

Hubungan beliau dengan Gubernur ‘Abdullah bin Thahir tidak hanya sampai di situ, bahkan ketika Abu ‘Ubaid mengarang sebuah buku, beliau menghadiahkan buku tersebut untuk ‘Abdullah bin Thahir. Sebagaimana ketika menulis kitab Gharibul Hadits, beliau menunjukkan kitab tersebut kepada ‘Abdullah bin Thahir, sehingga Gubernur Khurasan ini berkata,

Sesungguhnya, akal yang telah membawa seseorang untuk menulis kitab yang sangat berharga ini, tidaklah pantas sibuk mencari ma’isyah (penghasilan).

Dan ‘Abdullah bin Thahir akhirnya menambahkan gajinya menjadi 10.000 dirham. Bahkan setelah beliau meninggal, gaji tersebut masih terus diterima oleh anak-anaknya.

Meski menetap di Baghdad, bukan berarti beliau meninggalkan thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu -red. jilbab). Beliau waktu tidak memangku jabatan, akan tetapi, beliau menyusun dan menulis kitab, dan ini memudahkan beliau untuk terus belajar kepada para ulama di berbagai tempat.

Di antara (tempat) yang beliau datangi adalah Mesir pada tahun 213 H, Damaskus, Marwa dan kota yang lainnya. Kemudian pada tahun 219 H, beliau pergi ke Mekkah, dan terus berada di kota tersebut sampai wafatnya. Mengapa beliau memilih tetap tinggal di Mekkah dan tidak kembali ke Baghdad?

Coba kita perhatikan kisah beliau ini. Ketika selesai melakukan haji, beliau berniat segera kembali ke Irak pada pagi hari. Abu ‘Ubaid menuturkan kisahnya,

Aku bermimpi melihat Rasulullah dalam keadaan duduk Dan di atas kepala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ada orang-orang yang menutupi beliau. Banyak orang yang masuk dan menemuinya memberi salam dan berjabat tangan dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap aku berusaha mendekat, ada yang berusaha menghalangiku. Maka aku katakan kepada mereka, “mengapa kalian tidak membarkan aku bertemu dengan Rasulullah?”

Mereka menjawab, “Tidak, Demi Allah, engkau tidak boleh masuk dan tidak boleh memberi salam kepadanya, sedangkan engkau akan keluar besok pagi menuju Irak.” Mendengar jawaban itu, maka aku katakan kepada mereka, “Kalo begitu, aku tidak akan kembali ke Irak.” Maka mereka pun mengambil janjiku, kemudian membiarkan aku untuk menemui Rasulullah. Aku pun masuk dan memberi salam dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjabat tanganku. Dan akhirnya aku membatalkan niatku kembali ke Irak.

Disamping kedekatannya dengan Gubernur Khurasan waktu itu, sebagai seorang ulama yang beraqidah shahihah yang kuat berpegang kepada Sunnah, beliau juga menjadi salah seorang yang sangat dekat hubungannya dengan Imam Ahmad bin Hambal. Sehingga tidak heran, jika beliau banyak terpengaruh oleh Imam Ahmad, terutama dalam masalah aqidah, sehingga beliau terkenal sangat keras terhadap ahlul bid’ah. Sikap keras beliau terhadap ahlul bid’ah, dapat kita lihat dalam perkataan-perkataan beliau,

Aku telah banyak menyertai manusia, dan berbicara kepada ahli kalam, tidaklah aku dapatkan suatu kaum yang lebih lemah, lebih kotor, lebih menjijikkan dan lebih dungu melebihi orang-orang Rafidhah. Dan sungguh, aku telah memangku jabatan hakim di perbatasan, maka aku keluarkan dari mereka tiga orang, yaitu dua orang Jahmiyah dan satu orang Rafidhah atau dua orang Raidhah, dan satu orang jahmiyyah. Aku katakan kepada mereka, orang seperti kalian tidak pantas untuk berada di perbatasan.

Kedekatan beliau dengan Imam Ahmad, jiga dapat dilihat dari perkataan Imam Ahmad tentang dirinya, “Abu ‘Ubaid adalah seorang yang setiap harinya menambah untuk kami, kecuali kebaikan.” Begitupula Abu ‘Ubaid, beliau sangat menghormati Imam Ahmad, hingga beliau mengatakan,

Sungguh aku telah duduk bersama Abu Yusuf Al-Qadhi, Muhammad bin Hasan, Yahya bin Said dan Abdurrahman bin Mahdi, maka tidak ada yang lebih aku hormati ketika membahas suatu masalah melebihi Abu Abdillah Ahmad bin Hambal.

Abu ‘Ubaid juga berkata,

Ilmu itu berakhir pada empat orang. Yaitu Ahmad bin Hambal yang paling faqih, Ibnu Abi Syaibah yang paling hafal, Ali bin Madini yang paling mengetahui, dan Yahya bin Main yang paling rajin menulis

Dan juga beliau mengatakan,

Aku tidak pernah melihat seorang yang paham terhadap Sunnah melebihi Ahmad bin Hambal

[[Diringkas dari Muqaddimah Tahqiq kitab At-Thahur karya Imam Abu ‘Ubaid Qasim bin Sallam, oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Mansyur bin Hasan Alu Salman, cet. I tahun 1414H, penerbit As-Shahabah, Jeddah. Disalin dari majalah As-Sunnah edisi 10/X/1427H/2006M, rubrik baituna hal. 9-10.]]


Catatan Kaki:

  1. Yang maksudnya, beliau telah cukup dengan pemberian gaji dari gubernur Abdullah bin Thahir. -red. majalah Assunnah. []